Arsitektur hijau mensyaratkan bangunan yang sudah selesai dipakai ikut didaur ulang. Jika dirobohkan begitu saja, limbah materialnya dapat merusak dan mencemari lingkungan. Stadion Olimpiade London 2012 bahkan dirancang agar tiap elemennya diurai dan didaur ulang setelah acara selesai.
Tiga bentuk daur ulang
Dari bahan, fungsi, sampai kawasan
Bahan bangunan
Bata, beton, dan kayu dipakai kembali sehingga kebutuhan material baru berkurang.
Fungsi bangunan
Bangunan lama direvitalisasi, seperti Magna Plaza Amsterdam yang dulu Kantor Pos.
Kawasan
Kawasan lama dihidupkan lagi, contohnya Kota Tua Jakarta dan City Walk Solo.
Daur ulang bahan bangunan
Puing bukan sampah, tapi bahan baku
Bata
Dihaluskan dan dijadikan bahan batu cetak.
Kayu
Jadi rangka pintu, jendela, atau papan sekat dinding.
Beton
Jadi agregat halus dan kasar untuk beton daur ulang. Kuat tekannya 19 – 28,4 MPa, dibanding 27 MPa untuk beton asli.
Omah Kebon, Yogyakarta
Rumah dari limbah keramik, kaca, dan genting. Meraih penghargaan karya arsitektural unik Kementerian PU tahun 2011.
Rumah gabion, Haiti
Batako dari kawat bronjong berisi puing gempa 2010, sekitar USD 92/m² dibanding USD 170 – 200/m² rumah biasa.
Sumber: Arsitektur Hijau dalam Inovasi Kota, bab 7 (Sumiyanto 2011; Potangaroa 2013; Pradipto 2005).
Peran teknik sipil
Bangunan dan transportasi saling melengkapi
Bidang bangunan
Memilah material saat pembongkaran, memakai beton hancuran sebagai agregat daur ulang, dan memakai kembali kayu serta material yang masih layak.
Bidang transportasi
Memanfaatkan beton dan bata hancuran untuk paving block pada trotoar dan jalur pejalan kaki, seperti pemavingan City Walk Jalan Slamet Riyadi, Solo (2005).
1
Bongkar
bangunan lama
2
Pilah
bata, beton, kayu
3
Olah
dihancurkan, dibersihkan
4
Produksi
agregat, paving block
5
Gunakan
bangunan dan jalan
Konsep zero waste
Kurangi sampah dari sumbernya
Zero waste berarti nol sampah: dari produksi, pemakaian, sampai barang dibuang, sesedikit mungkin menghasilkan limbah. Pengelolaannya memakai prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) di lokasi sedekat mungkin dengan sumber sampah, sehingga beban ke TPA berkurang.
Pengomposan
Sampah organik jadi kompos.
Daur ulang
Plastik dan kertas jadi produk baru.
Teknologi
Pengolahan sampah ditingkatkan.
Peran warga
Masyarakat jadi ujung tombak.
Contoh San Francisco: menargetkan zero waste 2020 dengan pemilahan di sumber, larangan kemasan makanan yang tidak bisa didaur ulang, pembatasan tas plastik, dan kewajiban mendaur ulang material konstruksi. Hasilnya hampir 78% sampah kota dapat didaur ulang.
Studi kasus
Pantai Pandansimo, Bantul
Zero waste dicanangkan di kawasan Pantai Baru Pandansimo oleh Bupati Bantul bersama Dekan Fakultas Teknik UGM pada 8 Juli 2013. Setelah itu Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul menambah infrastruktur sampah seperti tempat sampah portabel. Pencanangan ini perlu ditindaklanjuti agar zero waste benar-benar terwujud.
Hasil pengamatan lapangan
Lokasi dan waktu: …………………………………………
Temuan: jenis dan sumber sampah, kondisi tempat sampah, pemilahan …………………………..
Analisis: kenapa belum sesuai zero waste …………………………..
Masalah teknis: …………………………………………
Solusi rekayasa: …………………………………………
Video kami
Tonton konten YouTube ZeroCycle
Lihat langsung bagaimana limbah diubah menjadi material baru, mulai dari pemilahan di lapangan sampai hasil olahannya, lewat video dokumenter kami.
Pemilahan dan daur ulang langkah demi langkah dari bahan bekas bangunan.
Studi lapangan kondisi pengelolaan sampah di Pantai Pandansimo.
Ide penerapan paving block dari bahan daur ulang untuk jalur pejalan kaki.
Limbah hari ini, bahan bangunan esok hari
Daur ulang yang dipilah, diolah, dan diterima masyarakat dapat mengubah puing dan sampah menjadi bangunan dan jalan yang lebih ramah lingkungan.
Referensi: Kusumawanto, A. & Astuti, Z. B. (2014), Arsitektur Hijau dalam Inovasi Kota, Bab 7 dan Bab 8, Gadjah Mada University Press.
Foto: tempat sampah pilah (Unsplash), Demolition waste (Wikimedia Commons, CC BY 2.5), Beach Plastic waste 1 (Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0), Permeable paving Taipei (Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0).